Copyright © amaliata
Minggu, 14 November 2010

Kata Emosionalku IV

darahmu darahku sama. aku bangga prosesormu. kagum medalimu. terkesima agamamu. sujud syukur, aku lebih bangga jadi diriku yg punya etika.
Senin, 08 November 2010

Gambar Digital II Cover Majalah

Ini adalah tugas UTS Gambar Digital II. Tugasnya adalah membuat cover majalah. Teknik yang gue buat untuk gambarnya adalah menggunakan tracing, dan untuk backgroundnya dengan membuat pattern sendiri. Disini gue nggak terlalu mengeksplor lebih banyak, karena eh karena request dari dosennya hanya itu loh. Ini gue buat cover Majalah Vector. 
So, bagaimana dengan kalian?

Jumat, 15 Oktober 2010

Kata Emosionalku III

Kadang datang dan mendekati, kadang buang dan langsung pergi. kadang berbicara dengan hati dan kadang bicara nada mati. #g
Saat hujan menderu-deru. kau duduk tersipu malu. menutup muka dengan kemejamu. kau mengintip malu. sejak itu. aku memperhatikanmu. #3
Langit mencabik-cabik awan hingga sakit dengan suara menggelegar.
Lama menyimpan surat. coklat sudah lama minggat. aku mengerutkan jidat. tak ada yang perlu dicatat. telat. kisahnya sudah lama tamat. #KE

Aku datang. kau membentang. layaknya elang. senang. tanpa palang. sesaat ingatan terbuang. aku ingin berpetualang. sini sayang. #3
Malam kelabu. hitam dibelenggu. tersipu. selalu ragu. aku. kamu. tak ada kata satu. hidupmu hidupku. meski hidupku bukan hidupmu. #4
Kucuri beberapa bintang jatuh yg melintas barusan. kuletakkan persis dibawah bantal penuh harapan. untuk masa depan. kelak dihadapan. #KE
Dayaku suda tak ada separu. ragaku terbaring nyaris kaku. tiba langit gelapku. lekas aku menjemputmu. bermimpi denganmu. wahai sayangku. #KE

Deras hujan. jadi genangan. di jalanan. harapan berceceran.

Atap menanggis tanpa henti. do'a dipanjatkan silih berganti. berhentilah mencaci maki. itu anugrah Sang Ilahi.

idungnya penuh amunisi. melekat berhari-hari. makhotanya lurus selalu tergerai rapi. semangatnya tiada henti. pagi malam ia lalui. #4  

Rasa kantukku mengebu-gebu ketika pagi datang dan fajar sedikit malu untuk tampil, aku masih tertunduk lelah tiada jeda.

Senyumnya padat. melekat. indah kau di habitat. wahai adam, diamlah kau di tempat. kau bagaikan obat. terlihat. lalu mendekat. :) #3

alam menjelang. hujan membentang. aku tercengang. melihatmu jauh dari belakang. tetap harus tenang. karena hatimu sedang tergoyang #6
Senin, 11 Oktober 2010

Rekor Dunia Mural Batik 192 jam

Tepat pada tanggal 2 Oktober 2010, Mahasiswa Sekolah Tinggi Desain Interstudi (STDI) memulai aksinya dalam melukis di atas tembok yang tepat diperingati hari batik sedunia. Dengan waktu 192 jam mereka melukis batik nonstop.







Dan. pada tanggal 10 Oktober 2010 adalah puncak acaranya. Batik yang dilukis oleh 30 mahasiswa Sekolah Tinggi Desain Interstudi dinyatakan masuk Rekor Dunia oleh Musium Rekor Indonesia.












Minggu, 26 September 2010

Kata Emosionalku II



Berkelanjutan dari apa yang dipendam, menumpahkan apa yang pernah terekam, menumpuk menjadi karya yang tak pernah direncanakan. 

Wahai Gusti. Engkau Maha Adil & Maha Pemberi. aku menikmati malam ini. mengobati sdikit luka hati. aku sangat menyukai ini. ku harap esok lagi :)
Wahai Tuhan. Lapangkan. Kuatkan. Hari ini dan keesokan. Aku pasrahkan. Aku Ikhlaskan. Apa yang sudah Engkau tuliskan.
Dia dianggap gila.ketika cerita imajinasi menembus ruang & waktu.bagai menyusun naskah hidup. kadang terbawa saat trlelap. bahkan jadi nyata saat terbangun.

Terlalu lama mengulur waktu hingga akhirnya hujan pun datang. dasar kau pembohong ;(
Cinta itu tak pernah angkat kaki. aku telah memintanya pergi. kamu telah usir berkali-kali. namun cinta berkata, "Coba tanya Sang Gusti."

Ketika terlelap, cinta menyelimutiku. layaknya menghangatkan jiwaku. menemaniku disaat bermimpi dengan nadamu, semu.

Layaknya pak guru yg mengisi nilai dilembar raporku dengan tinta merah, memperlihatkan ke dunia bahwa aku si tolol yang selalu mengulang kesalahan.

Berjalan, tersandung, merangkak, lalu jatuh.
Jarum-jarum langit telah berjatuhan. udara tak sungkan menikam raga. apadaya rembulan buram. ditemani langit hitam, suram. Hamba terdiam bisu. #KE

Suatu hari akan tiba ketika kamu main petak umpet terakhir kalinya. di sa'at mengumpat tak seorangpun yang menemukanmu. #KE

Setiap kali merindukannya, akupun pergi tidur, agar ia muncul, dihadapanku. ah, andaikata tahu itu mimpi belaka, tak mau aku kembali terjaga. #C

Walau aku tahu, bahwa ia tak akan datang disetiap malam lembut. ketika para jangkrik bernyanyi seru, aku tetap membuka pintu, menunggu. #C
Diujung pohon tinggi. dekat aliran sungai, suara burung bernyayi, memanggil pacarnya kembali. sepi saupi, ternyata mimpi. malam memilin hati #C

Betapa kuatnya tangisanku untuk melupakanmu. kau selalu menyelinap kepikiranku. ketika kau dengar nyanyian, tentu kau tahu, itu tangisanku untukmu #C

Kutahu cinta kau seterang siang. kutahu akhirnya kau meninggalkanku jg & ketika kau pergi, tak ada rantai yg bisa mengikatmu tetap disini #C


Dalam keelokanmu, aku belajar merangkai kata. tapi terkadang ketika mengenangmu, terciptalah sajakku. #KE
Tersenyumlah dan lupakanlah semua, daripada mengenangku terlibat duka. #KE

Paparkan semua apa yang kau rasa. katakan aku tolol, tak berguna. karena akulah kau terjaga semalaman. & karena akulah kau tak bahagia. #KE

Kini jiwaku masih menyimpan kobaran cinta itu. tetapi Tuhan melarang kau menderita karena ku & aku tak mau kau terbebani duka itu. #KE

Tanpa sepatah kata,tanpa harap,trkadang cemburu buta,memilih diam.cintaku penuh klembutan.smoga kau dapatkan cinta macam itu dilain masa #KE

Cintailah aku demi cinta itu sendiri, tanpa keegoisan, kenegatifan & kesombongan. dengan kepercayaan, cinta itu ada dalam keabadian. #KE
Kamis, 02 September 2010

Kata Emosionalku


   Awalnya menulis karena menyalurkan emosional dari perasaan, lama-lama jadi kebiasaan.

Paru-paru menyempit, kunang-kunang menari di kepala, mata terpejam erat, diri tiada daya.  

Sudut" tulang bersinggungan,tertekan menekan kulit hingga sakit,dini malam udara menusuk ke dalam,lemah daya ku hapadi,menghayalmu apalagi.  

Masa lalu.layaknya hantu. tak dpt dipegang, tetapi ada berkeliaran. Menakutkan, ingin berlari, tapi harus dihadapi berani.  

Detak waktuku bernafas. mengores langit dikala gelap. gaduh dibayangi sepiku. cair di bawah pandangku. meledak dalam diriku. siapa Aku. #sajak  

Disusun rapih bersih tanpa noda, hingga tak terlihat disekeliling.padahal nampak dipelupuk. that's you man!  

Bulan nampak cantik ditemani dengan satu bintang, tapi buatku itu tak seimbang. #aduadu 

Hey bulan, senyummu malam ini sangat sempurna hamparan langit gelap diselimuti beberapa bayangan awan putih yang belum terlelap jua. 

Ditengah malam jumat,dibawah pohon belimbing, ku duduk diatas bumi menatap hamparan langit berwarna abu-abu,silau aku mlihat-mu sprti itu. 

Udara malam menusuk kulit dan masi dengan bulan aku bertanya, mengapa engkau sendiri?


Kau seperti bulan, kadang muncul dihadapan, kadang mengumpat dikegelapan. ku harap kau selalu menemaniku dikala kesendirian #sajak 

Rembulan dikala sunyi senyap brjalan prlahan, siapa peduli. jika engkau, aku peduli. #sajak  

Sejenak tak menyadarkan diri dari kehidupan, aku mulai bermimpi ganteng.  

Dia hanya bisa memandangi.diam tanpa kata seolah bersembunyi.seolah tak peduli.namun sungguh berarti. #sajak

Kapan kita bisa introspeksi? Bila yg ada hanya angkuh hati? Mungkin tak tersadar diri. Namun kita perlu belajar dari perbedaan ini.  

Hempasan angin menusuk jari-jemari. daun" bergerak mengikuti irama. lalulalang terekam dibidang prsegi panjang & tertangkaplah seseorang.  

Dunia baruku amatlah seru. tiada biru hatiku, maupun kelabu. tak perlu malu-malu atau pun mencoba hal baru.aku sulit membuka lembaran baru, apalagi saru.  

Semestaku berkata. Tuhan adalah empunya. Segala doa terjawabkan pada waktunya. Tenang saja.  

Doa-doa telah terkumpulkan. Diluruhkan. Tuhan. Jadi kenyataan. Kadang terkabulkan. Kadang tertundakan. Kadang digantikan.  

Hari-hari telah berlalu, jauhkan dari rasa pilu, hapus bayang semu, hilangkan rasa ragu, jadilah dirimu, datanglah padaku. #september #sajak  

Aku jadi merasa terpuruk diperangkap. sesuatu masih terasa gelap. wahai Semesta kuharap dia tangkap. agar semua daftarku terungkap. #sajak  

Hai coklat. manismu pekat. aku seperti terikat. melihatmu di habitat. tawamu ketat. diamku terlihat. #sajak  

Langit hitam kelabu. pertanda mata mulai sayu. diam kau disitu. ku kan singgah dimimpimu. wahai kamu. tiap malam ku merindu. #sajak  

Senang ku melihat, matamu terjerat, apa yang ku surat, tentang si coklat. aku sangat terpikat, ingin terikat, tapi apa boleh buat, dia minggat.  

Mencoba menghilang sekelebat. tapi tak dapat. Coklat telah menelan hasrat. aku menyurat. lalu mengumpat.

Rabu, 25 Agustus 2010

Room

that's my new room.
banyak data-data kuliah, banyak tumpukan novel, buku sastra -> i love it!
koleksi gantungan kunci, pin, dan banyak label brand -> untuk inspirasi.
pekan sastra itu poster buatan kakak gue untuk skripsinya.
yang nggak boleh ketinggalan -> Color Wheel buat pengaturan warna.
poster perempuan berkondenya itu INDONESIA banget.
papan peringatan yang biasa untuk nempel-nempel catatan penting.
Minggu, 01 Agustus 2010

Nirmana 3 Dimensi Tutup Botol

Nah, ini dia lanjutan dari nirmana-nirmana yang menyiksa jiwa dan raga kita... kali ini nirmananya membuat semacam candi, loh maksudnya? Nirmana kali ini menggunakan bahan bakunya tutup botol, sebenarnya bebas dan tidak ditentukan merk tutup botolnya, tapi harus 1 merk ya teman-teman biar warnanya serasi. Jadi alibi si dosen menggunakan tutup botol adalah sambil kuliah sambil juga menyelamatkan lingkungan. Oke alasan itu bisa diterima. Dari awal dikasih tugasnya adalah bepikir bagaimana caranya mengumpulkan tutup botol sebanyak mungkin untuk ditempel bertumpuk. Oh... dan itu tidak mungkin kita lakukan dengan mengaduk-ngaduk tempat pembuangan sampah toh. Alhasil harus beli ketukang loak untuk membeli tutup botol hasil pengumpulan para pemulung. (-___-") Beli lah dengan kilo-an. Saran saya sih, pake tutup botol dari bahan plastik aja, kalo besi lebih mahal harganya. Dan jangan lupa yah dicuci bersih dan direndam supaya kuman-kumannya mati.
Untuk memulai pengerjaannya dibutuhkan lem, tentu yang kuat adalah tembak, tapi sering belepetan, jangan terlalu panas ya, karna bisa merusak tutup botolnya. Untuk jenis pengeleman yang lain menggunakan Lem power glue, hati-hati, sakit loh kalo kena tangan. Teknik pengerjaannya adalah, buat sketch dulu mau seperti ada bentuknya, oiya request dari dosennya itu dibuat nyambung dan tidak boleh terputus. Kemudian saya kurang tau alasannya kenapa, tutup botol disusun terbuka ke atas ya dengan kata lain merk si tutup botol tidak terlihat. Setelah sketch jadi, baru deh disusun satu per satu langsung di lem. Dan perlu ketelatenan untuk mengerjakan itu, setelah diberi lem agak sedikit ditekan agar peroses pengelemannya rata. gitu. Apa kamu juga pernah mendapatkan tugas seperti ini? So. Sharing aja ya kalo yang udah pernah. Dan buat kamu yang belum atau baru mendapatkan tugas ini. . . Good Luck! Diperlukan kesabaran yang teramat dalam. 

Salam Nirmana!  :D
Jumat, 30 Juli 2010

Opini Opini Opini Mereka



Gambar di atas adalah sekilas tentang opini dari teman-teman panitia di kampus gue. Cukup lega ternyata mereka senang bekerjasama dengan gue. Thanks all for panitia. gue pun juga seneng bisa kerja bareng sama lo pada, yang tadinya ngga gue kenal, eh sekarang udah maen tampol-tampolan. hihi

Dari SMP gue udah tergila-gila dengan organisasi, semua jabatan hampir udah gue coba, tapi satu yang belom pernah gue coba ---> Ketua Panitia. Mudah-mudah dibangku kuliah gue bisa menyantap posisi itu dengan lancar. Amin ya rabbal alamin :)

Workshop V "Modern Nature" Desain Multimedia Interstudi

Tanggal 28 dan 29 juli 2010 yang lalu Sekolah Tinggi Desain Interstudi (STDI) jurusan Desain Multimedia menyelenggarakan acara Workshopnya yang ke V bertemakan Modern Nature. “Kami mengajak teman-teman untuk tidak hanya mengonsumsi teknologi modern saja, tapi juga memadukan antara teknologi dan alam yang mengikuti perkembangan jaman” tutur Intishor Jundi, ketua pelaksana.

Kampus yang berlokasi di Jalan Kapten Tendean No.2 Jakarta Selatan ini terdiri dari 2 session. Hari pertama yaitu Intermediate with Photoshop membuat Poster yang menggunakan teknik jitu dari Sang master Eddy Sarwono. Dan hari kedua Power of nature with After effects yang pandu oleh professional graphic designer yaitu Yayat Duriat. Dalam session after effect peserta diajarkan untuk mengedit video dan menambahkan efek hingga hasilnya seperti film layar lebar. Peserta sangat antusias dalam mengikuti materi yang diberikan dan selalu bertanya yang kurang dimengerti kepada asisten master yang mendampingi mereka. Selain itu ada juga presentasi dan pc demo tentang teknologi yang mensupport desain oleh Digital Alliance. Beberapa kuis yang diadakan diselang acara tak membuat peserta malu-malu untuk menjawab pertanyaan untuk mendapatkan bingkisan dari Majalah Versus. “Materi yang diajarin seru, sukses yah buat Interstudi! ” ujar Heri peserta workshop. (AMEL)
Minggu, 25 Juli 2010

Cerita Nyata - "Masa Kecilku, Traumaku"

-->
         Saya mewawancararai seorang teman saya yang sempat merasakan pada masa kecilnya sedang ada ketegangan perang antaragama di Ambon pada tahun 1999, yang mana  terjadi konflik antar 2 agama, yaitu Islam dan Kristen yang bermula dari kesalahpahaman. Dia adalah Maya Ardia Rosevita yang sekarang berumur 18tahun. Berikut adalah hasil wawancara saya dengannya yang saya kemas jadi suatu cerita.
Cerita bermulai ketika aku berumur 7 tahun, aku pindah dari Pemalang, Jawa Tengah untuk ikut Ayah-Ibuku pindah ke Maluku, Ambon. Awalnya aku menetap di Jakarta. Karena pekerjaan Ayah-Ibuku adalah seorang Polisi, maka tempat tinggal kamipun berpindah-pindah. Kota Ambon adalah kota kedua yang ku singgahi. Saat itu aku masih terlalu kecil, belum mengerti apa-apa yang terjadi. Aku menginjak kota Ambon dengan rasa binggung bercampur takut. Tepat pada tahun 1999 kota Ambon sedang berlangsung perang. Saat itu terjadi perang antar agama islam dengan agama Kristen. Mereka saling membunuh tanpa pikir panjang saat mengetahui berlalinan agama. Saling tembak, tusuk, hingga aku melihat dengan mata kepala ku sendiri saat pertama kali aku menginjak kota Ambon ditepi pantai terapung sebuah benda. Ooh tidak! Sungguh batinku tak kuat melihat apa yang belum pantas aku lihat untuk anak kecil seusiaku yang terlalu dini untuk melihat sebuah kepala yang masih berlumuran darah dengan mata melotot dan bibir yang pucat terapung di atas air laut yang airnya sedikit kemerah-merahan menuju ke arahku. Sontak aku terkejut dan langsung menanggis sambil berlari ke arah ayahku yang langsung menggedongku.
Di Ambon juga memiliki peraturan. Setiap agama baik Islam maupun Kristen memiliki masing-masing wilayah. Jika melewati batas wilayah atau menyelinap masuk ke wilayah agama lain, jangan harap pulang dengan selamat. Keluargaku tinggal di sebuah komplek dinas yang masuk wilayah islam yang berbatasan dengan perkampungan. Aku mempunyai tetangga yang bertempat tinggal di belakang rumah, mereka memiliki anak kembar sepantaran umurnya denganku. Sebenarnya agama mereka adalah Kristen, tapi karena keadaanlah mereka menyamar menjadi warga yang menganut agama Islam.
Ketika hari kedua di sana, Ayahku sempat binggung ingin memasukan aku ke sekolah mana yang aman, hingga dia meminta tolong kepada bawahannya untuk mencarikan aku SD, namun mirisnya semua SD Islam di Kota Ambon itu sudah lenyap, begitupun dengan SD Negeri. Dengan sangat terpaksa dan keadaan yang mendesak aku bersekolah di SD Kristen dan menyamarkan identitas agamaku menjadi Kristen hanya untuk bersekolah. Aku melanjutkan di SD Kristen tersebut bersamaan dengan tetanggaku yang kembar itu. Dan alasan lain Ayahku mau memasukan aku ke SD itu salah satunya adalah lokasinya tepat berseberangan dengan kantor ayahku.
Pada suatu malam ketika aku ingin pulang bersama ayahku dari kantornya, tiba-tiba ada seorang teman ayahku yang beragama Kristen ingin menginap di rumah karena suatu kepentingan pekerjaan dengan ayahku. Kami pulang dengan kendaraan mobil yang dikendarai oleh supir ayahku, lalu di bangku belakang adalah teman ayahku, aku, dan ayahku. Ketika kami diperjalanan menuju rumah, tiba-tiba kami dicegat oleh sekelompok orang, dengan nada membentak dan menodongkan senapan laras panjang kearah pak supir. Mereka memerintahkan kami untuk mengeluarkan kartu identitas. Jantungku rasanya ingin berhenti berdetak saat itu, aku menangis terisak-isak karena takut, perasaanku tidak enak karena yang aku tahu teman ayahku ini beragama Kristen. Ketika beliau mengeluarkan kartu identitasnya dan kami langsung dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Aku langsung berhenti menanggis dan kebinggungan karena tidak jadi di tembaki, lalu ternyata teman ayahku itu sudah prepare untuk membuat kartu identitas dengan dua versi agama. Kami sempat dibentak-bentak karena peraturannya untuk warga yang beragama Islam yaitu harus tiba di rumah sebelum magrib. Jadi selamatlah kami untuk hari itu.
Hari ketiga aku bersekolah di SD Kristen itu, saat sedang jam pelajaran tiba-tiba ada banyak orang tua murid yang berdatangan untuk menjemput anaknya masing-masing, padahal jam pelajaran belum usai. Aku dan temanku linglung, kebinggungan, dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi di luar sana. Guruku juga tidak memberikan suatu informasi untuk kami dan melepaskan muka tenang seperti tidak terjadi apa-apa di luar sana. Semua murid yang sudah dijemput dipersilahkan untuk pulang. Sedikit demi sedikit teman-temanku berkurang karena orang tua mereka sudah menjemput. Tapi, kami bertiga, aku dan temanku yang kembar itu tiba-tiba menanggis karena kelas semakin lama semakin sepi dan hanya kami yang belum juga dijemput. Dengan modal nekat kamipun memaksakan keluar dari kelas dan tidak lama kemudian kamipun dijemput, aku dijemput oleh anak buah ayahku, dan sikembar oleh ayahnya. Dengan posisi anak kecil digendong yang istilah formalnya diamankan aku dikelilingi banyak polisi untuk dievakuasi. Kemana? Kekantor ayaku yang tepat berada di sebrang SD-ku itu. Dan apa yang terjadi setelah aku dievakuasi?? Dorrdooorddoooorr. Suara tembakan untuk keseratus kalinya aku dengar. Dan itu untuk kesekian kalinya aku melihat potongan kaki, tangan, dan kepala ada dimana-mana. Perang mulai mereda ketika malam hari dan aku diungsikan pulang bersama dengan ayahku.
Semenjak hari ketiga aku bersekolah, hari keesokan dan seterusnya aku tidak pernah datang untuk bersekolah lagi. Ayahku khawatir, apalagi aku sebagai seorang bocah ingusan yang sudah mendapat tekanan berat dari lingkungan dengan apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri mayat bergeletakan dimana-mana dan melihat orang mati ditembak secara live. Dan perang semakin memuncak setiap harinya. Aku hanya bisa berlindung dibalik tembok rumah dari manusia-manuisa brutal di luar sana.
Seminggu kemudian tiba-tiba banyak polisi yang berdiri di depan rumahku, masuk ke semak-semak yang menurutku sangat cantik, rerumputan yang diatur sedemikian rupa, aku berfikir bahwa itu sengaja dibuat untuk mempercantik dareah rumahku. Tetapi ternyata alasan lain adalah sebagai tempat persembunyian untuk menyimpan senjata laras panjang dan sebagainya. Sungguh di luar dugaan.
Ketika aku menemani ibuku memasak mie goreng di dapur, tiba-tiba kami langsung mengambil posisi tiarap karena mendengar suara tembakan. Karena tidak jauh dari rumahku, tepatnya lokasi belakang rumahku itu sedang memulai perang dengan menembakan peluru dari senapannya . Kami langsung mengambil langkah seribu menuju kamar.
Aku dengar dari warga sekitar kalau setelah perang, kadang-kadang ada manusia yang dibakar lawannya, lalu bagian belakang rumah saya itu dikhususkan sebagai tempat menguburkan mayat yang telah dibakar, lebih tepatnya di bawah pohon pisang. Dan tetanggaku yang memiliki anak kembar itu juga memiliki lahan khusus menguburkan mayat, tetapi hanya mayat yang ditembak saja. Mereka memulai menguburkan jenazah pada tengah malam.
Setelah hari itu perang kian memanas. Ayahku menyuruh aku dan ibuku untuk ikut  dengan ibu-ibu polisi lainnya mengungsi ke dataran lebih tinggi tengah malam nanti, yang dijemput oleh supir ayahku, di dataran tingggi adalah lokasi paling aman saat itu, tak lupa aku membawa ulil, dia adalah burung kakak tua pemberian anak buah ayahku, anak buah ayahku sengaja memberikannya kepadaku supaya aku tidak kesepian. Ulil adalah burung kakak tua yang cerdas, burung yang ajaib, tidak mau di rantai, apalagi tinggal di kandang.
Saat supir ayahku tiba, aku diingatkan untuk lekas membereskan barang-barangku, terutama barang yang wajib dibawa adalah bantal yang banyak. Untuk apa? Bantal tersebut diletakkan di segala sisi, kiri, kanan, depan, dan belakang untuk mengantisipasi jika terkena tembakan, peluru akan masuk menembus bantal terlebih dahulu. Aku duduk di posisi tengah sambil memegang ulil. Kami memilih tengah malam karena kami fikir aman untuk mengungsi ke dataran tinggi,  tapi ternyata kami salah besar, saat kami di perjalanan kami malah dikejar-kejar dengan orang-orang yang menembaki mobil kami, semua penumpang termasuk aku hanya bisa menanggis, lalu tanggisan dan jeritan semakin kencang saat supirku itu terkena tembakan di lengannya dan ditambah kaca mobil bagian kanan depan pecah. Ibuku menyuruhku untuk tidur tanpa alasan, mungkin beliau cemas. Tapi itu menurutku itu adalah permintaan yang tidak masuk akal, karena laju mobil yang tak terkontrol oleh supir dan ibu-ibu yang lain mulai histeris. Kami berangkat sekitar pukul 12 malam hingga sampai di dataran tinggi sekitar pukul 6 pagi, lokasinya sangat jauh dari tempat tinggalku sebelumnya, dan diperjalanan kami tersesat karena dikepung dan mobil kami ditembaki, terpaksa melintas di jalan yang kami tidak tahu arahnya untuk menghindari amukan dari massa yang membawa senapan laras panjang.
Ketika kami tiba di tempat tinggal baru yang berupa bangunan yang menyerupai wisma, lagi-lagi aku melihat seharusnya belum pantas aku lihat, seorang laki-laki yang membawa senapan laras panjang yang dikalungi dibadannya dan menenteng tombak di tangan kirinya yang lewat dihadapanku dengan membawa sebuah kepala ditangan kanannya yang masih berdarah-darah dengan mimik muka yang sepertinya senang dan puas karena telah berhasil memotong kepala lawannya. Dan aku lagi-lagi histeris nanggis memeluk ibuku yang juga merinding ketakutan.
Aku dan Ibuku berpisah dengan ayahku karena mengungsi di wisma dataran tinggi kurang lebih selama 3 bulan tidak bertemu ayahku, setiap hari aku cemas dengan keadaan ayahku, karena komunikasi sangat sulit saat itu. Bukan berarti kami pindah kedataran tinggi adalah tempat yang sangat aman, hanya sedikit aman, suara tembakan tetap ada, perang juga tetap berlangsung, tapi tidak terlalu full perang.
Suatu hari aku sedang bermain dengan ulil si burung kakak tuaku, tiba-tiba dia terbang ke luar wisma, aku langsung menanggis dan memanggil ibuku untuk minta dicarikan kemana ulil pergi. Lalu ibuku meminta tolong kepada seorang bapak-bapak untuk keluar rumah mencari ulil, karena tidak mungkinmaku/ibuku yang ke luar rumah,karena kami takut di tembak ataupun disandera. Tidak lama kemudian bapak-bapak itu menemukan ulil di jalanan sedang teriak-teriak layaknya kakak tua memanggil temannya, padahal di luar sedang terjadi tembak menembak. Ibuku memberikan uang Rp.20.000 kepada bapak-bapak itu sebagai imbalan. Uang Rp.20.000 pada saat itu sangatlah berharga.
Setelah bulan ke-enam, ayahku menyuruh kami untuk segera angkat kaki dari kota Ambon karena situasi yang sudah tidak bisa dikompromi lagi. Karena sudah tidak lagi transportasi bebas untuk keluar masuk dari Kota Ambon, lalu aku dan ibuku ikut menumpang di kapal Hercules. Kami pergi bersama rombongan ibu-ibu lainnya, dan juga bersama dengan tetanggaku yang kembar, mereka mengungsi ke Bali. Ibuku memilih untuk mengungsi ke Malang karena di sana merupakan kampung halaman ayah dan ibuku serta ada kakak-kakakku tinggal di sana bersama saudara-saudaraku. Ibuku, Aku dan juga Ulil naik pesawat Hercules, kami harus ikut transit untuk menurunkan penumpang lainnya, ke Makasar, Bali, lalu Surabaya. Kami berangkat dari kota Ambon sekitar pukul 11 pagi dan tiba di kota Surabaya pukul 3 sore.
Ibuku hanya mengantarku hingga aku kembali ke rumah dengan selamat, lalu beliau kembali naik Hercules ke kota Ambon untuk menjalankan tugasnya kembali. Dengan berat hati aku melepas kepergian ibuku yang entah akan pulang kapan hingga perang itu akan usai beliau baru akan bisa kembali kepelukanku bersama ayahku.
Saat aku tinggal di Malang aku mengalami trauma yang sangat dalam akibat perang. Aku tidak bisa meneruskan sekolah karena setiap hari aku trauma, tidak bisa keluar rumah karena takut melihat banyak orang karena aku berfikir mereka akan menembakku, aku tidak bisa melihat warna merah karena aku selalu beranggapan bahwa itu adalah darah korban pembunuhan, dan aku sensitive dengan suara-suara yang mengangetkan, walau hanya suara tembakan berasal dari televisi, aku langsung mengumpat di bawah kolong meja atau lari ketakutan dan menanggis mencari kakakku, mas didit yang 9 tahun lebih tua dari aku. Apalagi ketika aku bermimipi yang tidak bisa ditebak jalan ceritanya, aku selalu digentayangi mimpi buruk. Masa trauma saat aku pindah ke Malang sungguh sangat menyiksaku.
Aku juga baru bisa meneruskan sekolahku yang sangat terlambat beberapa bulan untuk menunggu semester berikutnya. Setelah trauma mereda lalu aku meneruskan sekolah seperti anak-anak normal lainnya, walau bayang-bayang perang itu masi ada.
Setelah tiga tahun kemudian Ayah Ibuku kembali dengan selamat dari tugasnya di Ambon. Dan saat kelas 6 SD semester awal kami sekeluarga kembali pindah ke Jakarta. Dan meneruskan hidup normal.

Cerita Nyata - "Masa Kecilku, Traumaku"