Copyright © amaliata
Minggu, 25 Juli 2010

Cerita Nyata - "Masa Kecilku, Traumaku"

-->
         Saya mewawancararai seorang teman saya yang sempat merasakan pada masa kecilnya sedang ada ketegangan perang antaragama di Ambon pada tahun 1999, yang mana  terjadi konflik antar 2 agama, yaitu Islam dan Kristen yang bermula dari kesalahpahaman. Dia adalah Maya Ardia Rosevita yang sekarang berumur 18tahun. Berikut adalah hasil wawancara saya dengannya yang saya kemas jadi suatu cerita.
Cerita bermulai ketika aku berumur 7 tahun, aku pindah dari Pemalang, Jawa Tengah untuk ikut Ayah-Ibuku pindah ke Maluku, Ambon. Awalnya aku menetap di Jakarta. Karena pekerjaan Ayah-Ibuku adalah seorang Polisi, maka tempat tinggal kamipun berpindah-pindah. Kota Ambon adalah kota kedua yang ku singgahi. Saat itu aku masih terlalu kecil, belum mengerti apa-apa yang terjadi. Aku menginjak kota Ambon dengan rasa binggung bercampur takut. Tepat pada tahun 1999 kota Ambon sedang berlangsung perang. Saat itu terjadi perang antar agama islam dengan agama Kristen. Mereka saling membunuh tanpa pikir panjang saat mengetahui berlalinan agama. Saling tembak, tusuk, hingga aku melihat dengan mata kepala ku sendiri saat pertama kali aku menginjak kota Ambon ditepi pantai terapung sebuah benda. Ooh tidak! Sungguh batinku tak kuat melihat apa yang belum pantas aku lihat untuk anak kecil seusiaku yang terlalu dini untuk melihat sebuah kepala yang masih berlumuran darah dengan mata melotot dan bibir yang pucat terapung di atas air laut yang airnya sedikit kemerah-merahan menuju ke arahku. Sontak aku terkejut dan langsung menanggis sambil berlari ke arah ayahku yang langsung menggedongku.
Di Ambon juga memiliki peraturan. Setiap agama baik Islam maupun Kristen memiliki masing-masing wilayah. Jika melewati batas wilayah atau menyelinap masuk ke wilayah agama lain, jangan harap pulang dengan selamat. Keluargaku tinggal di sebuah komplek dinas yang masuk wilayah islam yang berbatasan dengan perkampungan. Aku mempunyai tetangga yang bertempat tinggal di belakang rumah, mereka memiliki anak kembar sepantaran umurnya denganku. Sebenarnya agama mereka adalah Kristen, tapi karena keadaanlah mereka menyamar menjadi warga yang menganut agama Islam.
Ketika hari kedua di sana, Ayahku sempat binggung ingin memasukan aku ke sekolah mana yang aman, hingga dia meminta tolong kepada bawahannya untuk mencarikan aku SD, namun mirisnya semua SD Islam di Kota Ambon itu sudah lenyap, begitupun dengan SD Negeri. Dengan sangat terpaksa dan keadaan yang mendesak aku bersekolah di SD Kristen dan menyamarkan identitas agamaku menjadi Kristen hanya untuk bersekolah. Aku melanjutkan di SD Kristen tersebut bersamaan dengan tetanggaku yang kembar itu. Dan alasan lain Ayahku mau memasukan aku ke SD itu salah satunya adalah lokasinya tepat berseberangan dengan kantor ayahku.
Pada suatu malam ketika aku ingin pulang bersama ayahku dari kantornya, tiba-tiba ada seorang teman ayahku yang beragama Kristen ingin menginap di rumah karena suatu kepentingan pekerjaan dengan ayahku. Kami pulang dengan kendaraan mobil yang dikendarai oleh supir ayahku, lalu di bangku belakang adalah teman ayahku, aku, dan ayahku. Ketika kami diperjalanan menuju rumah, tiba-tiba kami dicegat oleh sekelompok orang, dengan nada membentak dan menodongkan senapan laras panjang kearah pak supir. Mereka memerintahkan kami untuk mengeluarkan kartu identitas. Jantungku rasanya ingin berhenti berdetak saat itu, aku menangis terisak-isak karena takut, perasaanku tidak enak karena yang aku tahu teman ayahku ini beragama Kristen. Ketika beliau mengeluarkan kartu identitasnya dan kami langsung dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Aku langsung berhenti menanggis dan kebinggungan karena tidak jadi di tembaki, lalu ternyata teman ayahku itu sudah prepare untuk membuat kartu identitas dengan dua versi agama. Kami sempat dibentak-bentak karena peraturannya untuk warga yang beragama Islam yaitu harus tiba di rumah sebelum magrib. Jadi selamatlah kami untuk hari itu.
Hari ketiga aku bersekolah di SD Kristen itu, saat sedang jam pelajaran tiba-tiba ada banyak orang tua murid yang berdatangan untuk menjemput anaknya masing-masing, padahal jam pelajaran belum usai. Aku dan temanku linglung, kebinggungan, dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi di luar sana. Guruku juga tidak memberikan suatu informasi untuk kami dan melepaskan muka tenang seperti tidak terjadi apa-apa di luar sana. Semua murid yang sudah dijemput dipersilahkan untuk pulang. Sedikit demi sedikit teman-temanku berkurang karena orang tua mereka sudah menjemput. Tapi, kami bertiga, aku dan temanku yang kembar itu tiba-tiba menanggis karena kelas semakin lama semakin sepi dan hanya kami yang belum juga dijemput. Dengan modal nekat kamipun memaksakan keluar dari kelas dan tidak lama kemudian kamipun dijemput, aku dijemput oleh anak buah ayahku, dan sikembar oleh ayahnya. Dengan posisi anak kecil digendong yang istilah formalnya diamankan aku dikelilingi banyak polisi untuk dievakuasi. Kemana? Kekantor ayaku yang tepat berada di sebrang SD-ku itu. Dan apa yang terjadi setelah aku dievakuasi?? Dorrdooorddoooorr. Suara tembakan untuk keseratus kalinya aku dengar. Dan itu untuk kesekian kalinya aku melihat potongan kaki, tangan, dan kepala ada dimana-mana. Perang mulai mereda ketika malam hari dan aku diungsikan pulang bersama dengan ayahku.
Semenjak hari ketiga aku bersekolah, hari keesokan dan seterusnya aku tidak pernah datang untuk bersekolah lagi. Ayahku khawatir, apalagi aku sebagai seorang bocah ingusan yang sudah mendapat tekanan berat dari lingkungan dengan apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri mayat bergeletakan dimana-mana dan melihat orang mati ditembak secara live. Dan perang semakin memuncak setiap harinya. Aku hanya bisa berlindung dibalik tembok rumah dari manusia-manuisa brutal di luar sana.
Seminggu kemudian tiba-tiba banyak polisi yang berdiri di depan rumahku, masuk ke semak-semak yang menurutku sangat cantik, rerumputan yang diatur sedemikian rupa, aku berfikir bahwa itu sengaja dibuat untuk mempercantik dareah rumahku. Tetapi ternyata alasan lain adalah sebagai tempat persembunyian untuk menyimpan senjata laras panjang dan sebagainya. Sungguh di luar dugaan.
Ketika aku menemani ibuku memasak mie goreng di dapur, tiba-tiba kami langsung mengambil posisi tiarap karena mendengar suara tembakan. Karena tidak jauh dari rumahku, tepatnya lokasi belakang rumahku itu sedang memulai perang dengan menembakan peluru dari senapannya . Kami langsung mengambil langkah seribu menuju kamar.
Aku dengar dari warga sekitar kalau setelah perang, kadang-kadang ada manusia yang dibakar lawannya, lalu bagian belakang rumah saya itu dikhususkan sebagai tempat menguburkan mayat yang telah dibakar, lebih tepatnya di bawah pohon pisang. Dan tetanggaku yang memiliki anak kembar itu juga memiliki lahan khusus menguburkan mayat, tetapi hanya mayat yang ditembak saja. Mereka memulai menguburkan jenazah pada tengah malam.
Setelah hari itu perang kian memanas. Ayahku menyuruh aku dan ibuku untuk ikut  dengan ibu-ibu polisi lainnya mengungsi ke dataran lebih tinggi tengah malam nanti, yang dijemput oleh supir ayahku, di dataran tingggi adalah lokasi paling aman saat itu, tak lupa aku membawa ulil, dia adalah burung kakak tua pemberian anak buah ayahku, anak buah ayahku sengaja memberikannya kepadaku supaya aku tidak kesepian. Ulil adalah burung kakak tua yang cerdas, burung yang ajaib, tidak mau di rantai, apalagi tinggal di kandang.
Saat supir ayahku tiba, aku diingatkan untuk lekas membereskan barang-barangku, terutama barang yang wajib dibawa adalah bantal yang banyak. Untuk apa? Bantal tersebut diletakkan di segala sisi, kiri, kanan, depan, dan belakang untuk mengantisipasi jika terkena tembakan, peluru akan masuk menembus bantal terlebih dahulu. Aku duduk di posisi tengah sambil memegang ulil. Kami memilih tengah malam karena kami fikir aman untuk mengungsi ke dataran tinggi,  tapi ternyata kami salah besar, saat kami di perjalanan kami malah dikejar-kejar dengan orang-orang yang menembaki mobil kami, semua penumpang termasuk aku hanya bisa menanggis, lalu tanggisan dan jeritan semakin kencang saat supirku itu terkena tembakan di lengannya dan ditambah kaca mobil bagian kanan depan pecah. Ibuku menyuruhku untuk tidur tanpa alasan, mungkin beliau cemas. Tapi itu menurutku itu adalah permintaan yang tidak masuk akal, karena laju mobil yang tak terkontrol oleh supir dan ibu-ibu yang lain mulai histeris. Kami berangkat sekitar pukul 12 malam hingga sampai di dataran tinggi sekitar pukul 6 pagi, lokasinya sangat jauh dari tempat tinggalku sebelumnya, dan diperjalanan kami tersesat karena dikepung dan mobil kami ditembaki, terpaksa melintas di jalan yang kami tidak tahu arahnya untuk menghindari amukan dari massa yang membawa senapan laras panjang.
Ketika kami tiba di tempat tinggal baru yang berupa bangunan yang menyerupai wisma, lagi-lagi aku melihat seharusnya belum pantas aku lihat, seorang laki-laki yang membawa senapan laras panjang yang dikalungi dibadannya dan menenteng tombak di tangan kirinya yang lewat dihadapanku dengan membawa sebuah kepala ditangan kanannya yang masih berdarah-darah dengan mimik muka yang sepertinya senang dan puas karena telah berhasil memotong kepala lawannya. Dan aku lagi-lagi histeris nanggis memeluk ibuku yang juga merinding ketakutan.
Aku dan Ibuku berpisah dengan ayahku karena mengungsi di wisma dataran tinggi kurang lebih selama 3 bulan tidak bertemu ayahku, setiap hari aku cemas dengan keadaan ayahku, karena komunikasi sangat sulit saat itu. Bukan berarti kami pindah kedataran tinggi adalah tempat yang sangat aman, hanya sedikit aman, suara tembakan tetap ada, perang juga tetap berlangsung, tapi tidak terlalu full perang.
Suatu hari aku sedang bermain dengan ulil si burung kakak tuaku, tiba-tiba dia terbang ke luar wisma, aku langsung menanggis dan memanggil ibuku untuk minta dicarikan kemana ulil pergi. Lalu ibuku meminta tolong kepada seorang bapak-bapak untuk keluar rumah mencari ulil, karena tidak mungkinmaku/ibuku yang ke luar rumah,karena kami takut di tembak ataupun disandera. Tidak lama kemudian bapak-bapak itu menemukan ulil di jalanan sedang teriak-teriak layaknya kakak tua memanggil temannya, padahal di luar sedang terjadi tembak menembak. Ibuku memberikan uang Rp.20.000 kepada bapak-bapak itu sebagai imbalan. Uang Rp.20.000 pada saat itu sangatlah berharga.
Setelah bulan ke-enam, ayahku menyuruh kami untuk segera angkat kaki dari kota Ambon karena situasi yang sudah tidak bisa dikompromi lagi. Karena sudah tidak lagi transportasi bebas untuk keluar masuk dari Kota Ambon, lalu aku dan ibuku ikut menumpang di kapal Hercules. Kami pergi bersama rombongan ibu-ibu lainnya, dan juga bersama dengan tetanggaku yang kembar, mereka mengungsi ke Bali. Ibuku memilih untuk mengungsi ke Malang karena di sana merupakan kampung halaman ayah dan ibuku serta ada kakak-kakakku tinggal di sana bersama saudara-saudaraku. Ibuku, Aku dan juga Ulil naik pesawat Hercules, kami harus ikut transit untuk menurunkan penumpang lainnya, ke Makasar, Bali, lalu Surabaya. Kami berangkat dari kota Ambon sekitar pukul 11 pagi dan tiba di kota Surabaya pukul 3 sore.
Ibuku hanya mengantarku hingga aku kembali ke rumah dengan selamat, lalu beliau kembali naik Hercules ke kota Ambon untuk menjalankan tugasnya kembali. Dengan berat hati aku melepas kepergian ibuku yang entah akan pulang kapan hingga perang itu akan usai beliau baru akan bisa kembali kepelukanku bersama ayahku.
Saat aku tinggal di Malang aku mengalami trauma yang sangat dalam akibat perang. Aku tidak bisa meneruskan sekolah karena setiap hari aku trauma, tidak bisa keluar rumah karena takut melihat banyak orang karena aku berfikir mereka akan menembakku, aku tidak bisa melihat warna merah karena aku selalu beranggapan bahwa itu adalah darah korban pembunuhan, dan aku sensitive dengan suara-suara yang mengangetkan, walau hanya suara tembakan berasal dari televisi, aku langsung mengumpat di bawah kolong meja atau lari ketakutan dan menanggis mencari kakakku, mas didit yang 9 tahun lebih tua dari aku. Apalagi ketika aku bermimipi yang tidak bisa ditebak jalan ceritanya, aku selalu digentayangi mimpi buruk. Masa trauma saat aku pindah ke Malang sungguh sangat menyiksaku.
Aku juga baru bisa meneruskan sekolahku yang sangat terlambat beberapa bulan untuk menunggu semester berikutnya. Setelah trauma mereda lalu aku meneruskan sekolah seperti anak-anak normal lainnya, walau bayang-bayang perang itu masi ada.
Setelah tiga tahun kemudian Ayah Ibuku kembali dengan selamat dari tugasnya di Ambon. Dan saat kelas 6 SD semester awal kami sekeluarga kembali pindah ke Jakarta. Dan meneruskan hidup normal.

Cerita Nyata - "Masa Kecilku, Traumaku"

1 komentar:

  1. subhanalloh....cerita yang amat menakutkan,saya membaca sampai merinding....

    BalasHapus