Copyright © amaliata
Rabu, 20 April 2011

Kata Emosionalku VI

sunyi senyap. kalbu menggelap. langit menatap. mimpi menghadap. mari mendekap. malam penuh harap.  

warna malam saru. hiruk pikuk beradu. alunan nada mengacu. tahu, tapi seakan tak tahu. hanya dapat mengadu. karna hamba malu. wahai biru.  

atmosfer menghampiriku. menghampiri lalu mendekapku. engkau... biru... dimalam yang kelabu, terkubur di alam rindu. padamu.  

semesta temani di kelap malam. terniang sosoknya dalam mimpi kelam. sesaat hanya terdiam. tersenyum. lalu kembali muram.  

langit teriak dikala senja. tercipta.tetesan air mata. apa guna hanya dpt meminta? raga jg harus usaha. karena selama kau hidup tiada jeda.
 
malam menusukku. melihatmu. tak mampu. terbaring kaku. siripmu saru. pilu. orange warnamu. maafkan tak becus merawatmu. ikanku. mumu.

rembulan terang. hangatnya menendang. sunyi menghadang. kau menghilang. aku menunggu pulang.
 
kau berbicara tanpa fikir. kadang khilaf dengan yg diukir. hanya menerima takdir. tanpa fikir ke hilir. hati yang dibombardir.  

terbaring sedikit kaku. digerakan,membisu. jari kaki terasa linu. sudut tulang seperti beradu. dlm hati mengadu. ngilu. apa lagi ingat kamu.
 

langitnya ngeblur. tetes air jatuh teratur. halilintar pun mendekur. aku... kabur.  

kontraksi otot leher menjerit. seperti dililit. kunang-kunang mengapit. lalu menyambit. dayaku sempit. terlalu rumit. tolong jgn dipersulit.

ia hanya mengatakan. lalu didengarkan. tapi, kenapa kau publikasikan? lalu ditertawakan, di depan. itu bukan lelucuan. melainkan rintihan.

sang fajar mulai menampakan diri. tak ada daya untuk berdiri. merangkak jatuh dan bangkit sendiri. mandiri.

hari ini diucapkan. esok dilupakan. sirna di genggaman. hadirkan ratapan. sunyi akan kehidupan. tenggelam di pemberhentian.

langitnya manyun. ragaku mengayun-ayun. bangkit kemudian melamun. pagi ini jakarta dingin minta ampun.  

hari tersandung. meraung. lalu binggung. tak dapat bersenandung. dikala mendung. membendung. saat semua berlangsung.  

kututup senja ini dengan sentuhan. tekanan. di persendian. jadi bahan renungan. harian. atau mungkin tahunan.  

dayaku tak ada setengah. menahan rasa untuk singgah. sungguh sangat lumrah. semuanya tumpah.  

harinya masih tabu. menikmati, kemudian semu. waktu terus berpacu. mengadu. lalu membisu. warnanya abuabu, jalan yang sedang dituju.



0 komentar:

Posting Komentar